..

17 Maret 2024

Sikapmu Mengangkat Derajatmu

 



Ucapkan dan lakukan perbuatan yang baik agar kebaikan akan mengiringi langkah dalam hidup kita

 

Tepat tengah hari, terik matahari terasa begitu menyengat kulit. Mobil Firman sampai di halaman sebuah kantor perusahaan. Setelah parkir di area yang sudah disediakan untuk tamu, Firman turun dari mobil tanpa menunggu sopir pribadinya membukakan pintu. Sopir pribadi Firman bernama Roni, pemuda berusia 25 tahun yang hanya lulusan SMA.

Melihat majikannya sudah keluar dari mobil, Roni bergegas turun dan menghampiri Firman untuk membawakan tas yang dijinjingnya. Tawaran Roni ditolak oleh Firman. “Udah, gak usah. Biar aku bawa sendiri aja. Sekarang kamu boleh istirahat, nanti kalau aku udah mau pulang, aku telepon.” ucap Firman sambil tetap melangkahkan kaki menuju lobi kantor.

Roni tidak kaget dengan sikap majikannya. Sudah empat tahun lebih ia bekerja menjadi sopir pribadi Firman. Tentu ia sangat paham sifat dan kebiasaan majikannya itu. Seorang eksekutif muda yang tajir, berwibawa dan dihormati semua orang. Meski usianya belum genap 35 tahun dan masih menyandang status lajang tetapi Firman sudah menunjukkan kematangan dan kedewasaan dalam bersikap.

Firman mempunyai banyak asisten yang siap membantunya dalam bekerja dan melakukan aktifitas sehari-hari, tetapi bukan berarti ia selalu tunjuk sana tunjuk sini. Jika bisa melakukannya sendiri, kenapa harus menyuruh orang lain? Begitu prinsip hidup yang dipegang Firman.

Begitu memasuki kantor, semua orang yang ditemuinya melontarkan senyuman dan menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada Firman. Meski sudah setahun lebih tak berkantor di sana karena ia dipindahtugaskan ke kota lain, tetapi kharisma dan wibawanya masih terasa begitu kuat.

“Selamat siang, Pak Firman.” sapa seorang office boy yang kebetulan berpapasan dengan Firman. Ia lalu mengulurkan tangan ke arah office boy tersebut untuk mengajaknya berjabat tangan. “Siang, Mas Didin. Gimana kabarnya?” sambut Firman dengan raut muka penuh keramahan. Mereka lalu berbincang hangat layaknya sahabat yang lama tak berjumpa. Nyaris tak nampak perbedaan jabatan di antara keduanya.

Firman memang akrab dengan semua karyawan di kantornya. Bahkan ia hafal semua nama anak buahnya. Padahal jumlahnya ratusan. Tak jarang ia terlihat ngobrol santai dengan karyawannya. Begitu cara Firman menjalin komunikasi dengan orang-orang yang menjadi bagian dari timnya. Selain membangun keakraban, dengan cara itu ia juga bisa dengan cepat mendengarkan masukan atau masalah yang terjadi di perusahaan yang ia pimpin.

“Terima kasih, Pak Firman. Selama ini telah memberikan banyak pelajaran hidup bagi saya.” ucap Didin.

“Oh ya, memang saya pernah ngasih pelajaran apa sama Mas Didin?” jawab Firman penasaran. “Padahal saya bukan guru, lho.” sambungnya bercanda.

“Ada dua kebiasaan Pak Firman yang selalu saya ingat.”

“Apa itu?”

“Saat memberikan perintah, Pak Firman selalu mengawalinya dengan kata tolong. Dan sering mengatakan kata maaf.”

Firman tiba-tiba terdiam mematung. Ia terharu dengan apa yang baru saja dikatakan Didin. Bahkan sama sekali ia tak menyadarinya. Kata yang begitu sederhana itu ternyata membekas kuat dalam ingatan Didin, anak buahnya.

 

***

Selain intonasi dan gesture kita dalam memberikan perintah, diksi yang kita pakai juga berpengaruh terhadap respon orang lain yang sedang kita beri perintah atau instruksi. Respon yang kita inginkan tentu respon yang positif. Yang kita harapkan pasti orang lain mau melaksanakan apa yang kita perintahkan dengan sungguh-sungguh. Caranya?

 Salah satunya mengawali kalimat perintah yang kita ucapkan kepada orang lain dengan kata ‘tolong’. Tolong, satu kata yang mungkin terdengar sangat sederhana dan ringan sekali bagi kita untuk mengucapkannya. Tetapi bisa jadi mempunyai pengaruh luar biasa bagi orang lain yang sedang kita ajak bicara. Lantas, apa pengaruhnya?

Ketika kita memberikan instruksi atau perintah kepada orang lain dan memulainya dengan kata ‘tolong’ maka kita menempatkan mereka tidak sebagai bawahan kita. Tetapi kita memposisikan mereka sejajar dengan kita. Itu juga berarti mereka tidak semata-mata kita akui sebagai bawahan tetapi mitra kerja. Kok bisa?

Sekarang, mari kita bedakan dua kalimat ini. “Bersihkan lantai itu, Pak!” dan “Tolong, bersihkan lantai itu, Pak!” Dua kalimat itu sama-sama memberi perintah. Tetapi mempunyai nilai rasa yang berbeda. Kalimat kedua lebih mempunyai rasa hormat dan menghargai orang lain. Lebih halus dibanding kalimat yang pertama.

Ketika kita mengawali kalimat perintah dengan kata ‘tolong’ berarti kita sedang meminta bantuan atau pertolongan. Tidak sekadar menyuruh atau memerintah. Orang lain yang sedang kita beri perintah pun cenderung lebih ikhlas dalam melaksanakan tugasnya. Kenapa? Karena mereka tidak merasa sedang diperintah melainkan dimintai pertolongan. Bagi mereka itu merupakan sebuah kehormatan. Dimintai tolong oleh seorang atasan.

Memerintah tanpa merendahkan. Meminta maaf meski tak berbuat kesalahan. Dua Tindakan yang ketika kita lakukan tidak membuat derajat dan harga diri kita turun tetapi justru sebaliknya. Ketika kita menghargai orang lain maka orang lain akan menghargai kita. Dan ketika kita menghormati orang lain, mereka juga akan menghormati kita.

Begitulah kehidupan. Apa yang kita ucapkan akan kembali kepada kita dan apa yang kita lakukan juga akan berbalik pada diri kita. So, ucapkan dan lakukan tindakan yang baik agar kebaikan akan mengiringi hidup kita.

 

***

Jendela inspirasi:

1.      Perbuatan sederhana namun bermakna jauh lebih baik daripada tindakan besar yang tiada guna.

2.     Apapun yang kita ucapkan dan lakukan akan kembali kepada kehidupan kita. Jadi hiasai tutur kata dan tingkah laku kita dengan kebaikan.

***


Catatan : Gambar hanya ilustrasi, diambil dari rencanamu.id

0 comments:

Posting Komentar