..

Buku Antologi Esai dan Opini

Minat Baca Bukunya? Silahkan DM akun instagram @bud11smail

Buku Antologi Berbagai Genre

Minat Baca Bukunya? Silahkan DM akun instagram @bud11smail

Buku Antologi Berbagai Genre

Minat Baca Bukunya? Silahkan DM akun instagram @bud11smail

Buku Antologi Kisah Nyata Inspiratif

Minat Baca Bukunya? Silahkan DM akun instagram @bud11smail

Buku Antologi Narasi Eksposisi

Minat Baca Bukunya? Silahkan DM akun instagram @bud11smail

15 Oktober 2023

Dari Sihir Afrika Hingga Gereja Maradona

 


Ceceran Kisah yang Jarang Terungkap dalam Sejarah Sepakbola Dunia

(Resume buku yang ditulis oleh Andy Marhaendra)


Dari Sihir Afrika Hingga Gereja Maradona (2010), adalah sekumpulan artikel menarik yang memotret kisah di dalam dan di luar lapangan dalam sejarah sepakbola dunia yang jarang diungkap dan diketahui oleh para penikmat sepakbola. Menikmati sepakbola tidak hanya sebatas mencermati skor pertandingan dan menyoraki pemenangnya. Kisah kehidupan para pelakunya tak kalah menarik dibandingkan dengan film-film box office atau novel bestseller sekalipun. Kisah drama itu pula yang membuat sepakbola tidak pernah kehilangan penggemar dan selalu menarik untuk ditonton.

 

Siapa penulis buku ini?

Andy Marhaendra adalah lulusan Sastra Indonesia di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta yang cukup lama  berkarir di berbagai media cetak. Di antaranya adalah majalah sepakbola Sportif (Juni 1998-Desember 2003), majalah Tempo (Maret 2004-Oktober 2004) dan Koran Tempo (November 2004-Mei 2009).

 

Untuk siapa buku ini?

  1. Para penggemar sepakbola yang ingin mengetahui lebih dalam tentang catatan sejarah atau kisah para tokoh sepakbola dunia.
  2. Siapapun yang ingin menambah wawasan dan pengetahuan tentang sepakbola.

 

Apa yang dibahas buku ini?

Berbagai drama yang terjadi di balik serunya pertandingan di lapangan hijau dan kisah menarik kehidupan di luar lapangan para pelaku sepakbola dunia.

Sepakbola adalah euforia dunia. Meskipun tidak didukung data resmi, bisa dibilang lebih dari setengah penduduk dunia adalah penggemar sepakbola. Namun, jangan lupakan juga bahwa sepakbola bukan sekadar olahraga permainan 2 x 45 menit di atas hamparan rumput lapangan hijau. Jika ada olahraga yang paling lengkap mewakili dan mengungkapkan berbagai sisi kehidupan, itulah sepakbola. Seperti halnya kehidupan, begitu banyak drama yang terjadi dalam permainan olahraga tua ini. Selebrasi, sensasi, konflik, intrik dan tragedi silih berganti menghiasi aksi para seniman bola memainkan si kulit bundar.

Buku ini diterbitkan di saat masyarakat pencinta sepakbola dunia sedang menanti perhelatan akbar 4 tahunan, World Cup 2010 yang berlangsung di benua Afrika, tepatnya di negara Afrika Selatan. Berbagai kisah baik di dalam maupun di luar lapangan khususnya yang menyangkut tim-tim kontestan pesta sepakbola terbesar di dunia itu diceritakan dengan sangat menarik dalam buku ini.

Hal-hal menarik yang bisa kita pelajari antara lain:

  1. Apa hal positif yang terjadi dari sebuah penyelenggaraan pertandingan sepakbola, khususnya Piala Dunia?
  2. Bagaimana kisah kehidupan para bintang sepakbola dunia?
  3. Apa sisi negatif dari sepakbola yang pernah terjadi?
  4. Bagaimana keluarga dapat mempengaruhi kesuksesan karir pemain sepakbola?

 

Piala Dunia mampu mempersatukan berbagai kelompok, meredakan ketegangan politik dan membangkitkan nasionalisme

Spanyol tak pernah absen melahirkan bakat-bakat besar pemain sepakbola, tetapi sampai Piala Dunia 2006 digelar, Tim Matador – julukan tim nasional Spanyol – belum pernah sekalipun mencicipi manisnya gelar juara dunia. Lantas apa masalahnya ? Nasionalisme. Para pemain yang dipanggil ke tim nasional selalu kesulitan menemukan kohesitas sebagai sebuah tim. Mereka masih merasakan sebagai orang-orang yang berbeda, bukan kesatuan Spanyol. Satu pemain merasa sebagai orang Galisia, yang lain sebagai Catalonia, Castilia atau Basque. “Kepingan” semangat itulah yang ingin disatukan Luis Aragones, pelatih tim Spanyol saat berlaga di Piala Dunia 2010 dan meraih juara untuk pertama kalinya.

Sebagai dua negara bertetangga, Korea Selatan dan Jepang memiliki catatan panjang sejarah kelam di masa lalu, yakni Perang Dunia II dan sengketa wilayah di Kepulauan Dokdo. Saat FIFA menunjuk Korea Selatan dan Jepang menjadi tuan rumah bersama pada Piala Dunia 2002, dunia berharap kedua negara tersebut berdamai dan melupakan masa lalu. Dan, meski “bumbu-bumbu” ketidakharmonisan masih terasa, kedua negara tersebut mampu berkolaborasi sehingga kejuaraan berhasil digelar dengan sukses dan menjadi trendsetter penyelenggaraan Piala Dunia di dua negara.

Sekian lama masyarakat Jerman hidup di bawah bayang-bayang kediktatoran Adolf Hitler. Hal ini membuat mereka malu dan merasa kehilangan jati diri sebagai sebuah bangsa. Bahkan untuk menyanyikan lagu kebangsaan dan mengibarkan bendera negaranya sendiri mereka tidak percaya diri. Tetapi status sebagai tuan rumah Piala Dunia 2006 menjadi momentum bagi Jerman untuk menumbuhkan nasionalisme dan patriotisme warga negaranya. David Odonkor dan Gerald Asamoah, dua pemain berkulit hitam pun masuk lapangan dengan gagah dan bangga sebagai bagian dari tim nasional Jerman. Satu pemandangan yang tidak mungkin terjadi di zamannya Hitle

Bagi Ukraina, sepakbola mempunyai makna perlawanan dan nasionalisme. Saat masih bersama Uni Soviet, bahasa Ukraina tertindas oleh bahasa Rusia. Sepakbola menjadi satu-satunya bahasa bagi mereka untuk menunjukkan identitas. Uniknya, dua tokoh bernama Shevchenko menjadi “aktor" bangkitnya semangat nasionalisme orang Ukraina. Shevchenko yang pertama adalah seorang seniman bernama Taras Hryhorovych Shecvhenko yang menggugah kesadaran orang Ukraina lewat ratusan puisi dan lukisan-lukisannya. Dan yang kedua adalah Andriy Shevchenko, striker sekaligus kapten yang membawa tim nasional Ukraina tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Saat kualifikasi Piala Dunia 2006, Serbia-Montenegro masih merupakan satu negara. Tetapi kurang dari sebulan menjelang tampil di putaran final, melalui referendum akhirnya mayoritas masyarakat Montenegro memilih “bercerai” dengan Serbia. Lantas bagaimana dengan skuad yang telah dipersiapkan untuk berlaga di Piala Dunia?. Tim itu berangkat dengan bendera Serbia tetapi ada dua pemain yang berasal Montenegro, yakni kiper Dragoslav Jevric dan stopper Mladen Krstajic. Bukannya dikucilkan atau “dibuang”, 21 kolega Jevric dan Krstajic di tim nasional justru memberi dukungan dan saling menguatkan. Di sini, sepakbola benar-benar telah menyatukan.

Penjara Pulau Robben di Afrika Selatan menyimpan kenangan buruk bagi Nelson Mandela. Di sana, Mandela bersama dengan 1.400 tahanan yang lain menjalani hukuman yang sebagian besar adalah tahanan politik akibat Rezim Apherteid. Mereka merasa harapan dan segala impian telah mati. Hanya satu yang menyisakan gairah kehidupan bagi mereka : sepakbola. Satu-satunya hiburan yang bisa mereka mainkan setiap akhir pekan. Dan ketika Mandela keluar dari penjara, sampai kemudian FIFA memutuskan Piala Dunia 2010 bertempat di Afrika Selatan, ini seperti penghormatan bagi mereka. Tidak hanya orang Afrika Selatan tetapi juga seluruh benua Afrika.

Profesionalisme dan nasionalisme para kontestan Piala Dunia benar-benar diuji. Hal ini karena beberapa dari mereka harus bertarung dengan negaranya sendiri. Zico yang berstatus pelatih Jepang harus menghadapi tanah kelahirannya, Brasil. Sven-Goran Eriksson yang menukangi Inggris, akan melawan bangsanya sendiri, Swedia. Para pemain yang menyeberang ke negara lain demi bisa tampil di Piala Dunia juga harus menunjukkan nasionalisme untuk negara barunya. Mehmet Aurelio (Brasil ke Turki), Pepe (Brasil ke Portugal), Deco (Brasil ke Portugal), dan Marcos Senna (Brasil ke Spanyol) adalah contoh.

Kurang lengkap rasanya bila menggemari sepakbola hanya sebatas mencermati skor pertandingan dan menyoraki pemenangnya”

Andy Marhanedra

 

Akhir perjalanan hidup para bintang setelah sinarnya meredup. Beberapa legenda mengalami tekanan mental setelah pensiun

Bagi para penggemar sepakbola, Diego Armando Maradona adalah representasi keindahan tertinggi yang hadir dari lapangan hijau. Orang Argentina bahkan menganggapnya sebagai pahlawan nasional, sebagian memujanya sebagai “Tuhan” dan membuatkan ruang pemujaan bernama Gereja Maradona di Buenos Aires pada 2003.

Di balik segala kebintangannya, pemain paling popular versi jajak pendapat FIFA tersebut mempunyai perilaku yang tak patut untuk dicontoh para pengagumnya. Pemilik “Gol Tangan Tuhan” itu tenggelam dalam kecanduan alkohol dan obat bius yang merenggut karirnya dan hampir juga merenggut nyawanya. Konon, perkenalan Maradona dengan obat bius terjadi karena kedekatannya dengan bos-bos mafia saat bermain di Napoli.

Sebagai negara yang melahirkan sepakbola, Inggris pernah melahirkan pemain gelandang dengan teknik terhebat sepanjang sejarah negara Ratu Elizabeth itu. Dialah Paul Gascoigne atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gazza. Gazza mengalami depresi berkepanjangan yang membuatnya sulit keluar dari permasalahan hidupnya. Ia kecanduan alkohol dan narkoba. Setiap hari dia menghabiskan 35 butir pil psikotropika seharga 36 juta rupiah.

Ariel Ortega, pewaris nomor punggung 10 di tim nasional Argentina setelah  Maradona gantung sepatu juga sempat terjerat dalam candu alkohol. Setelah melanglangbuana di Liga Spanyol dan Italia, Ortega mendapatkan kekecewaan saat bermain di Fenerbahce, Turki. Setelah pulang kampung ke negaranya dan bermain di Newell’s Old Boys pada 2006 itulah ia mulai tidak bisa lepas dengan alkohol.

Ironi Garrincha (Brasil) dan George Best (Irlandia Utara) lebih tragis lagi. Keduanya berakhir dengan kematian akibat efek overdosis alkohol dan narkoba. Garrincha meninggal pada usia 49 tahun karena penyakit lever yang akut sedangkan Best meninggal pada usia 59 tahun akibat infeksi paru-paru. Jika Garrincha terjebak dalam jeratan alkohol karena depresi maka Best melakukannya karena gaya hidupnya yang “ngartis”.

Sementara di Italia, Gianluca Pessotto punya catatan hidup yang agak berbeda. Setelah menyatakan pensiun di usia 35 tahun, dia diangkat sebagai manajer Juventus. Saat muncul tuduhan pengaturan skor yang dilakukan Juventus sepanjang musim 2004/2005, hati Pessotto tak kuat menahan malu sampai akhirnya diduga melakukan upaya bunuh diri dengan meloncat dari lantai 3 kantor Juventus di Turin.

Entah apa yang membuat Pessotto terjatuh kala itu. Bisa tak sengaja, bisa pula seperti dugaan orang : upaya bunuh diri. Yang jelas, kejadian tersebut membangkitkan solidaritas di kalangan sepakbola Italia untuk mendukung kembali timnya di Piala Dunia. Efeknya bagi para pemain lebih jelas lagi : melipatgandakan semangat.

 

Sisi hitam sepakbola, rivalitas dan fanatisme para pendukung klub melahirkan teror, anarkisme bahkan perang ilmu gaib.

Tidak hanya pemain dan pelatih yang dituntut selalu on fire, keinginan para pendukung agar tim kebanggaannya meraih kemenangan juga membuat perangkat yang memimpin pertandingan harus tampil sempurna tanpa cela. Satu kesalahan dalam meniup peluit bisa berakibat fatal. Teror dan ancaman pembunuhan akan datang bahkan tak jarang menimpa anggota keluarga sang pengadil.

Howard Webb (Inggris), Andres Frisk (Swedia), Urs Meier (Swiss), Mauro Bergonzi (Italia), dan Herbert Fandel (Jerman) adalah deretan wasit top Eropa yang pernah merasakan teror yang menakutkan. Yang disebut kedua bahkan memilih pensiun dini karena tidak tahan dengan ancaman mati dari pendukung Chelsea. Penyebabnya, Frisk mengkartumerah striker Chelsea, Didier Drogba saat mereka berjumpa Barcelona pada pertandingan Liga Champion 2004/2005. 

Munculnya teror tidak hanya karena kebencian tetapi juga bisa timbul dari cinta yang berlebihan. Biasanya, ini menimpa para pemain idola yang menjadi ikon atau bintang dari tim yang didukung. Di Italia, pemain AC Milan asal Brasil, Kaka yang diisukan akan pindah ke Manchester City harus rela menerima gangguan dari para penggemar. Roberto Baggio yang menyeberang ke Juventus dari Fiorentina dan Gabriel Batistuta yang hengkang dari Fiorentina ke AS Roma adalah contoh korban teror  yang lain.

Rivalitas antar klub juga sering melahirkan pertikaian. Dalam hal ini, Argentina bisa dijadikan contoh terdepan. Perseteruan abadi antara Rivel Plate dengan Boca Junior tidak jarang mengakibatkan kerusuhan yang berujung kematian. Barrabravas – sebutan untuk pendukung garis keras di Argentina – bahkan sampai dianggap sebagai “penyakit sosial”.

Di Eropa, tidak ada dalam catatan sejarah, rivalitas antara pendukung Juventus dengan Liverpool. Tetapi kerusuhan antar pendukung dua klub yang terjadi di Stadion Heysel pada final Liga Champion 1985 tercatat sebagai satu dari sekian peristiwa terburuk dalam sejarah sepakbola modern. Sebanyak 39 orang tewas dan 600 orang lainnya harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka parah.

Di Benua Afrika, sejauh ini belum ditemukan catatan sejarah tentang rivalitas pendukung antar klub. Yang identik dengan benua hitam ini adalah justru tentang isu ilmu hitam. khususnya dalam kancah sepakbola. Masing-masing negara di Afrika punya tradisi ilmu gaib yang berbeda tetapi Juju (ritual klenik khas Afrika bagian barat) adalah yang paling terkenal. Puleez, sebutan untuk dukun Juju punya cara kerja dan ramuan yang berbeda-beda. Media yang paling terkenal yaitu potongan tangan monyet dan gading gajah. Entah bagaimana cara kerjanya, yang jelas pengaruh pemakaian juju ini diakui secara terbuka oleh beberapa tokoh sepakbola di Afrika.

Selain juju, Afrika juga menyimpan keunikan lainnya, yaitu Vuvuzela. Vuvuzela adalah terompet yang terbuat dari tanduk antelop dan biasanya dipakai dalam upacara keagamaan. Waktu terus berlalu sampai akhirnya Vuvuzela identik dengan suporter sepakbola. Karena pengaruhnya yang cenderung negatif (menimbulkan kebisingan yang luar biasa) di beberapa negara mulai dilarang untuk dibunyikan.

 

Jika  ada olahraga yang paling lengkap mewakili dan mengungkapkan berbagai sisi kehidupan, itulah sepakbola

Andy Marhaendra

 

Peran keluarga terhadap karir pemain sepakbola dan perdebatan tentang boleh-tidaknya melakukan hubungan seks di tengah kejuaraan.

Sebagai tuan rumah Piala Dunia 2006, waktu itu Jerman dilatih oleh salah satu putra terbaiknya : Juergen Klinsmann. Tetapi sosok penting yang tak boleh dilupakan adalah “Sang Kaisar” Franz Beckenbauer. Beckenbauer yang sukses mempersembahkan dua gelar juara bagi negaranya baik saat menjadi pemain (1974) dan sebagai pelatih (1990) menjadi faktor penting atas terpilihnya Jerman sebagai tuan rumah Piala Dunia 2006. Bahkan oleh pemerintah Jerman, dia ditunjuk menjadi Presiden Pelaksana Turnamen.

Di lapangan hijau, Beckenbauer adalah panutan Klinsmann. Tetapi tidak untuk urusan rumah tangga. Jika Beckenbauer suka berganti-ganti pasangan, Klinsi – nama panggilan Klinsmann – begitu setia dengan mahligai yang ia bangun bersama Debbie Chin, perempuan keturunan Cina yang telah memberinya dua “malaikat kecil”. Kesetiaan itu pula yang membuatnya menuai kritik dari publik Jerman karena lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarganya di California, Amerika Serikat daripada mendampingi tim asuhannya berlatih di Berlin.

Bagi Klinsmann, keluarga memberinya suntikan energi dan sumber inspirasi untuk gaya sepakbola Jerman yang baru. Dan, meski akhirnya gagal lolos ke final, Klinsmann tetap mendapat apresiasi karena permainan Der Panser – julukan tim nasional Jerman – dianggap atraktif dan menghibur. Klinsmann telah berhasil melakukan revolusi metode latihan dan gaya bermain Jerman keluar dari pakem yang telah dipegang bertahun-tahun.

Senada dengan Klinsmann, bintang Perancis, Zinedine Zidane juga adalah sosok panutan soal kecintaan dan kesetiaan kepada keluarga. Setelah berhasil membawa Perancis menjadi juara Piala Dunia 1998, Zizou – sapaan akrab Zidane – dibanjiri e-mail dan surat dari para gadis penggemarnya untuk menawarkan “cinta”. Tetapi Zidane tidak goyah sedikitpun. Hatinya tetap untuk Veronique, wanita yang dinikahinya pada 1993 dan telah memberinya dua orang putra. Bagi Zidane, Veronique adalah sosok yang membuat hidupnya berubah dan meraih banyak kesuksesan sebagai pemain sepak bola. sehingga wajar jika ia ingin mendedikasikan sisa hidupnya untuk istri dan anak-anaknya.

Soal pendekatan keluarga, Guus Hiddink melakukannya berbeda saat menangani tim nasional Rusia. Selama bertahun-tahun Tim Beruang Merah – julukan tim nasional Rusia – digembleng dengan metode latihan bergaya militer yang diberi nama Sbori. Tetapi Hidding melakukan revolusi. Pelatih berkebangsaan Belanda itu tetap membebaskan para pemainnya bersantai dan berkumpul dengan keluarga meski di tengah perhelatan akbar Piala Dunia. Hiddink tidak khawatir fokus dan konsentrasi pemainnya terganggu. Justru hal itu dapat mempermudah program dan taktik yang dipersiapkan oleh pelatih asing pertama bagi tim nasional Rusia itu.

Jajaran pelatih tim nasional yang sependapat dengan Hiddink soal membiarkan para pemain “berhubungan” dengan pasangannya adalah Carlos Alberto Parreira (Brasil), Juergen Klinsmann (Jerman), Sven Goran Eriksson (Inggris), Jose Pekerman (Argentina) dan Raymond Domenech (Perancis). Sementara bagi Oleg Blokhin (Ukraina), dia memperbolehkan para pemainnya bersenang-senang dengan keluarganya dengan syarat pencapaian tertentu.

Prinsip berbeda dipegang oleh Marcelo Lippi (Italia) dan Luis Felipe Scolari (Portugal). Membiarkan para pemain bertemu dan berkumpul dengan pasangan atau keluarganya dapat mengganggu fokus pemain. Sehingga keduanya membuat aturan tegas dan mengisolasi para pemainnya dari “godaan” para pasangannya.


Kesimpulan buku 

  1. Sebagai olahraga yang paling digandrungi di muka bumi ini, sepakbola memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan.
  2. Para pelaku sepakbola, di balik kemampuan tekniknya yang memukau, popularitas yang menggiurkan, mereka tetap adalah manusia biasa yang mempunyai sisi buruk untuk jadi pelajaran dan tidak untuk ditiru.
  3.  Seperti dua sisi mata uang, sepakbola memberikan efek yang positif sekaligus meninggalkan efek yang negatif.
  4.  Meskipun sudah dilengkapi dengan perangkat teknologi, sepakbola tetaplah permainan olahraga yang tak bisa meninggalkan unsur manusiawinya. Disitulah sering sepakbola menjadi menarik.

 



[1] Tulisan resume ini ditulis oleh Budi Ismail, seorang pendidik di SMA Walisongo Pecangaan Jepara yang sejak kecil sangat menggemari sepakbola, bisa dihubungi melalui e-mail dimaskreatif@gmail.com, Facebook Budi Ismail, Instagram @bud11smail.

07 Juli 2023

Sistem Zonasi Menghambat Prestasi. Benarkah?




Sistem zonasi pertama kali diterapkan pada tahun 2017. Dasarnya adalah Permendikbud nomor 17 tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru jenjang SD, SMP, SMA dan yang sederajat. Dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa sasaran kebijakan sistem zonasi adalah SD negeri, SMP negeri dan SMA negeri. Selain tiga kelompok sekolah tersebut, bebas menerapkan kebijakan penerimaan peserta didik baru secara mandiri.

Sistem zonasi merupakan sistem penerimaan peserta didik baru yang didasarkan pada radius zona domisili calon peserta didik yang terdekat dengan sekolah. Penentuan zonanya diatur oleh pemerintah daerah masing-masing.[1] Regulasi yang digulirkan oleh Muhadjir Effendy selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu mempunyai tujuan yang mulia. Diantaranya percepatan pemerataan akses dan kualitas layanan pendidikan. Selain itu pemerintah ingin menghapus “kasta” dalam sistem pendidikan di Indonesia. Tidak boleh lagi ada label sekolah favorit dan tidak favorit.

 

Sistem zonasi di mata orang tua

Meskipun dari tahun ke tahun pemerintah telah melakukan penyempurnaan aturan pelaksanaan sistem tersebut, faktanya masalah baru selalu bermunculan. Kerancuan dalam penafsiran kebijakan oleh pemerintah daerah dan pimpinan sekolah adalah salah satu penyebabnya. Perbedaan dalam memahami dan menerapkan kebijakan dari pemerintah pusat memberi celah bagi calon peserta didik untuk bertindak curang.

Keinginan untuk menyekolahkan anaknya di sekolah negeri favorit pilihannya, seringkali membuat para orang tua melakukan segala cara agar cita-cita mereka terpenuhi. Termasuk menempuh cara-cara yang tidak jujur. Ada yang memalsukan surat keterangan domisili, kartu keluarga, sampai dengan menggeser titik lokasi di google maps agar bisa masuk zona sekolah yang diinginkan.

Orang tua menyekolahkan anaknya berarti memberinya fasilitas dan kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Tujuannya agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berilmu dan berakhlak. Tetapi, bagaimana mungkin, orang tua menginginkan anak-anaknya kelak menjadi insan yang jujur sementara cara yang ditempuh jauh dari prinsip kejujuran. Mereka ingin anak-anaknya berakhlak baik tetapi para orang tua justru memberikan contoh akhlak yang buruk.

 

Sistem zonasi bagi sekolah negeri

Tidak hanya muncul dari eksternal sekolah, penerapan sistem zonasi juga banyak dikeluhkan oleh pihak internal sekolah. Bukan karena prosedur dan administrasi pendaftarannya yang merepotkan melainkan lebih pada dampak yang ditimbulkan.

Bagi sekolah negeri, terutama yang selama ini berlabel favorit, sistem zonasi mengakibatkan menurunnya kualitas input peserta didik. Dahulu, sebelum sistem zonasi diberlakukan, sekolah negeri favorit bisa memperoleh input peserta didik berpotensi dan berprestasi dengan sangat mudah. Bahkan stoknya sampai “melimpah ruah”. Mereka tinggal menyaringnya dengan tahapan seleksi yang mereka tentukan secara mandiri.

Hubungan simbiosis mutualisme. Sekolah negeri favorit membutuhkan peserta didik terbaik agar bisa terus menjaga eksistensi prestasi dan prestise sekolah. Sementara peserta didik berprestasi juga butuh sekolah yang benar-benar mampu mengembangkan potensi yang dimiliki dan meningkatkan prestasinya.

Sejak era sistem zonasi dimulai, sekolah negeri mulai sulit mendapatkan stok “bibit unggul”. Memang masih ada peluang melalui jalur prestasi tetapi persentase kuotanya tentu sangat kecil. Sehingga alih-alih memacu prestasi sekolah, para guru di sekolah negeri kini justru dipusingkan dengan pengelolaan kelas dan pembinaan peserta didik.

Barangkali karena mereka terlalu lama berada di zona nyaman. Menikmati asyiknya mengajar peserta didik unggulan. Anak-anak yang mempunyai intelegensi di atas rata-rata, motivasi belajar tinggi, dan kondisi ekonomi orang tua mapan, tentu tugas guru menjadi lebih ringan. Cukup sedikit sentuhan dan polesan maka butiran-butiran mutiara itu akan mengilap. Ibarat mesin, hanya dengan sekali klik tombol di remote control maka mesin akan berjalan seperti yang mereka inginkan.

Berbeda dengan kondisi sekarang. Sekolah negeri kini tidak lagi menjadi muara anak-anak yang terlahir dengan bakat luar biasa. Karena sebagian besar yang masuk adalah para “tetangga” sekolah yang mempunyai tingkat kecerdasan beragam. Latar belakang ekonomi dan sosial keluarga juga bermacam-macam. Mengajar peserta didik dengan kondisi heterogen seperti itu tentu jauh lebih sulit dan menantang. Butuh kreativitas, kerja keras dan kesabaran tinggi. Kondisi inilah yang mereka keluhkan.


Keluhan sistem zonasi di sekolah swasta

Bagaimana dengan sekolah swasta? Ternyata keluhan muncul juga. Terutama dari sekolah swasta yang “kurang punya nama”. Penyebabnya adalah jumlah penerimaan peserta didik baru yang semakin menurun. Mereka berdalih, penerapan sistem zonasi menjadi biang keladinya.

Selama ini salah satu target pasar mereka yakni para calon peserta didik dengan nilai akademik pas-pasan dan kalah bersaing masuk sekolah negeri. Kebutuhan akan kuantitas input peserta didik membuat sekolah swasta menerapkan aturan persyaratan dan sistem seleksi masuk yang sangat ringan. Kualitas calon peserta didik belum menjadi prioritas.

Setelah sistem zonasi diterapkan, calon peserta didik yang selama ini menjadi target pasar mereka kini mempunyai peluang besar masuk sekolah negeri. Apalagi jika lokasi sekolah swasta berdekatan dengan sekolah negeri. Tentu persaingan memperebutkan calon peserta didik baru semakin berat. Akhirnya, tidak sedikit sekolah swasta yang sepi peminat bahkan terancam gulung tikar.

 

 Lantas, bagaimana solusi menghadapi kebijakan sistem zonasi ?

Benarkah sistem zonasi hanyalah sebuah kebijakan yang merepotkan? Sekali lagi, perlu dipahami dan diingat tujuan sistem itu diterapkan. Kalau sekolah hanya mau menerima peserta didik yang berkualitas, lantas mereka yang kemampuannya terbatas harus mencari sekolah di mana? Kalau guru mengeluh menghadapi peserta didik yang lambat dalam menyerap materi pelajaran, lalu apa sebenarnya fungsi profesi yang dia sandang?

Bukankah yang membutuhkan bimbingan, arahan dan pengajaran ekstra adalah anak-anak dengan keterbatasan kemampuan? Perhatian lebih juga harusnya ditunjukkan oleh guru dan pimpinan sekolah kepada para peserta didik dari keluarga kurang mampu ataupun broken home. Karena memang itulah fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan dan guru sebagai pendidik.

Bagi sekolah swasta, semestinya tidak perlu takut dengan sistem zonasi. Kalau ingin berkembang dan besar maka sekolah harus mendapat kepercayaan dari masyarakat. Agar dipercaya masyarakat maka sekolah harus memberikan layanan pendidikan yang prima. Layanan pendidikan yang prima tidak selalu harus bergantung dari kebijakan pemerintah.

Inovasi dan kreativitas dalam menyusun program yang menjadi unggulan sekolah sangat diperlukan. Sekolah perlu melihat ke dalam, mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Lalu menatap keluar, meneropong potensi lingkungan dan ancaman dari pesaing. Dari situ bisa dirumuskan langkah-langkah strategis untuk memajukan sekolah. Dalam hal ini, pimpinan sekolah juga harus mengajak para stakeholder untuk duduk bersama.

Jika selama ini sekolah swasta cenderung sulit bersaing dalam bidang prestasi akademik maka mereka bisa fokus dalam program pengembangan bidang nonakademik. Misalnya pembinaan prestasi olahraga, pengembangan keterampilan dan kewirausahaan atau pembinaan bidang kesenian. Dari sekian banyak potensi yang dimiliki, sekolah bisa mengangkat satu bidang untuk dijadikan program unggulan. Kalau sekolah konsisten dalam menjalankan programnya maka itu bisa menjadi school branding.

School branding tidak hanya melalui kegiatan prestasi tetapi bisa juga kegiatan nonprestasi. Program pembiasaan karakter yang menjadi budaya sekolah bisa diangkat menjadi keunggulan dan brand sekolah. Misalnya sekolah ramah anak, sekolah jujur, sekolah bersih, sekolah berakhlak dan lain-lain.

Seperti dua sisi mata uang. Segala sesuatu pasti ada sisi baik dan buruknya. Postif dan negatif, manfaat dan mudarat. Apa yang kita rasakan tergantung dari cara pandang kita terhadap suatu masalah. Jika kita berpikir positif maka insyaallah hal-hal baik yang akan kita terima. Sebaliknya jika pikiran kita dipenuhi dengan prasangka-prasangka buruk maka bisa jadi hal-hal tidak baik yang akan datang dalam hidup kita. Naudzubillah min dzalik.

Jadi, daripada kita berlarut-larut menangisi sistem zonasi, lebih baik kita kerahkan energi kita untuk mencari solusi yang inovatif dan progresif.

***




[1] Khadowmi, E. R. (2019). Implementasi Kebijakan Sistem Zonasi terhadap Proses Penerimaan Peserta Didik Baru Kabupaten Lampung Tengah. In Thesis. Lampung: Universitas Bandar Lampung.

 

03 Juli 2023

Kalau Ingin Kaya, Jangan Jadi Guru

 



 Yen awakmu kepengin sugih ojo dadi guru. Tapi dadi guru iso marai sugih" 

- Si Mbah -


Bulan Juni tahun 2004. Kuliahku memasuki semester delapan. Di tengah-tengah proses menyelesaikan skripsi, aku dibuat bimbang dengan tawaran untuk membantu di MI (Madrasah Ibtidaiyah, setara dengan Sekolah Dasar) sebagai guru dan staf tata usaha.

Aku sendiri sebenarnya tidak ingin berkarier di dunia pendidikan terutama menjadi guru. Meskipun orang tua ingin agar aku meneruskan perjuangan kakek. Ya, kakekku adalah salah satu pendiri dua yayasan pendidikan Islam. Satu di desaku sendiri dan satunya lagi di desa sebelah. Lima dari delapan anaknya juga telah mengabdikan diri di lembaga pendidikan. Sementara tiga yang lain memilih berbisnis, termasuk orang tuaku.

Suatu hari, dua guru utusan dari MI menemuiku. Tujuannya ingin meyakinkan aku agar mau bergabung. Awalnya aku menolak dan dibalas dengan counter attack mematikan, “Madrasah ini yang mendirikan dan memperjuangkan adalah kakekmu. Kalau kamu sebagai cucunya tidak mau meneruskan perjuangannya, lantas siapa lagi yang akan menghidupkan madrasah ini ?”

Sebuah pertanyaan yang membuatku hanya bisa diam. Diucapkan dengan halus tetapi rasanya seperti tamparan yang sangat keras. Seketika pendirianku goyah dan aku pun akhirnya mengatakan, “Iya, insya Allah.”

Aku tahu segala konsekuensi yang harus kuterima. Menjadi seorang guru tidak sekadar bagaimana mengajar di ruang kelas tetapi harus bisa memberi teladan yang baik kepada para murid di mana pun aku berada. Mereka belajar tidak hanya dari apa yang aku ucapkan tetapi juga dari apa yang aku lakukan.

Sebagai seorang pemuda tentu aku masih ingin menikmati masa mudaku. Tetapi dengan status seorang guru tentu semuanya menjadi tidak leluasa. Ada etika dan marwah profesi yang wajib aku jaga. Tanggung jawab moral itulah alasan sebenarnya mengapa dari dulu aku tidak mau menjadi seorang guru.

Jika kemudian aku menerima tawaran, karena madrasah itu adalah sekolah pertamaku, tempat aku mengenal angka dan bisa mengeja aksara. Begitu banyak ilmu yang aku dapatkan dari sana. Jadi ini saatnya untuk memberikan sesuatu kepada lembaga yang membesarkanku.

***

Setelah menyelesaikan kuliah pada April 2005 dan menyandang gelar Sarjana Ekonomi, pada Oktober 2006, aku memutuskan untuk mengakhiri masa lajangku. Menikah di usia dua puluh empat tahun, banyak yang menilai aku terlalu berani mengambil risiko. Usia masih tergolong muda, baru saja lulus kuliah dan penghasilan yang dinilai belum cukup sebagai modal mengarungi bahtera rumah tangga.

Sebagai guru yang belum genap dua tahun bertugas, honorku waktu itu tidak sampai menyentuh angka Rp800.000,00. Memang aku punya kerja sampingan, membantu kakakku mengelola usaha percetakan tetapi hasilnya tidak lebih banyak dari yang aku terima dari madrasah.

Dibesarkan di keluarga yang mayoritas berprofesi sebagai pendidik, cucu dari seorang kiai yang begitu ditokohkan di lingkungan desaku, juga menyandang status sebagai seorang guru, menjadikanku tak bisa berlama-lama menjalani masa pacaran. Apalagi orang tuaku pernah memberi nasihat bahwa menikah adalah ibadah.

Bahkan bapakku pernah berujar dengan kalimat yang sedikit lebih ekstrem, “Ojo nunggu duwe duit lagi kawin, nanging kawino mengko duite teko. (Jangan menunggu punya uang banyak baru menikah, tetapi menikahlah nanti uang akan datang.)”

Sejak menikah aku tinggal di rumah mertua. Bapak dan ibu mertuaku sudah tua renta, istriku yang merupakan anak bungsu dan satu-satunya yang tinggal serumah, membuat aku tidak punya pilihan lain. Di rumah itu aku jadi tulang punggung. Kebutuhan sehari-hari menjadi tanggung jawabku. Sementara honorku dari madrasah sudah habis untuk membayar angsuran pinjaman koperasi yayasan. Pinjaman itu aku ambil untuk biaya pernikahanku waktu itu. Bahkan aku masih harus menutup sekitar Rp200.000,00 setiap bulannya. Situasi makin sulit karena aku masih mempunyai cicilan kredit sepeda motor yang per bulannya mencapai Rp267.000,00.

Tepat setahun setelah menikah, anak pertamaku lahir. Inilah ujian dan tantangan berikutnya. Sebagai orangtua, aku harus mampu merawat dan mendidiknya dengan baik. Termasuk mempersiapkan dana tambahan untuk membiayai semua kebutuhannya. Padahal cash flow keuanganku setiap bulan hampir selalu defisit. Lagi-lagi, nasihat bapak yang membuatku tetap tenang dan optimis, anak itu ada rezekinya sendiri, dijamin oleh Allah.

***

Ternyata matematika Allah berbeda dengan matematika manusia. Suatu hari setelah subuh, istriku memberitahu kalau susu untuk si kecil habis. Sementara saat itu aku tidak memegang uang serupiah pun. “Iya, nanti siang pulang dari kantor sekalian aku belikan.” Jawabanku menenangkan istriku sambil berpikir dari mana aku dapat uangnya.

Allah Maha Pemurah dan Penyayang. Seketika itu Dia tunjukkan kepadaku. Menjelang berangkat ke kantor, ada seorang wanita yang datang ke rumah memesan sablon atribut sekolah. Setelah negosiasi sebentar akhirnya kami sepakat dengan harganya Rp70.000,00 yang harus ia bayar. Selembar uang pecahan Rp100.000,00 ia sodorkan, dan tentunya aku tidak punya uang kembalian. Karena kami berdua buru-buru untuk segera berangkat kerja, akhirnya ia bilang, “Ya udah kembaliannya besok aja sekalian aku ambil pesanannya.” Alhamdulillah, rezeki datang dengan cara yang tak kusangka. Aku pun bisa membelikan susu untuk anakku.

Januari 2010, setelah mendengar ada lowongan guru mata pelajaran ekonomi di sebuah SMA swasta. aku pun ikut mengajukan lamaran. Selain karena sesuai dengan kompetensi keahlianku, aku juga ingin sesuatu yang lebih menantang. Sebagai Sarjana Ekonomi, di MI aku justru mendapat tugas mengajar seni budaya dan keterampilan.

Akhirnya aku diterima sebagai guru ekonomi di SMA dan mendapat jatah mengajar dua hari dalam seminggu. Sehingga aku masih bisa mengabdi di MI. Tetapi kepala madrasahku di MI berpikiran lain. Beliau tidak setuju kalau aku masuk kantor hanya empat hari dalam seminggu. Aku disuruh memilih salah satu, MI atau SMA. Itu bukan situasi yang aku inginkan tetapi saat itu aku harus mengambil keputusan. Akhirnya dengan berat hati, aku berpamitan untuk melanjutkan pengabdian di SMA.

Kejadian itu rupanya menimbulkan gejolak di kalangan guru MI. Mereka menyayangkan kenapa hal itu bisa terjadi. Bukankah seharusnya bisa dicapai win-win solution. Apalagi kepala MI adalah pamanku sendiri. Seminggu setelah aku benar-benar tidak lagi di MI, reaksi teman-teman makin menjadi-jadi dan membuat pengurus yayasan turun tangan. Sampai pada akhirnya, ketua yayasan memerintahkan aku untuk masuk kembali ke MI.

***

Juni 2010, aku memutuskan untuk membangun rumah sendiri. Kondisi rumah mertua yang berbahan utama dari kayu sudah banyak yang lapuk dimakan usia. Meski belum punya tabungan yang cukup tetapi aku tak punya pilihan lain. Saat itu aku hanya punya modal Rp10 juta, itu pun hasil dari mengajukan pinjaman bank. Sambil pembangunan berjalan, kekurangan dana aku dapatkan dari pinjaman saudara dan teman dekat. Orang tuaku sendiri, karena kondisi keuangan, tidak mampu memberikan ‘subsidi’ yang cukup. Tiga minggu proses pembangunan akhirnya rumah kecilku bisa aku tempati.

Desember 2014, aku dinyatakan lulus sertifikasi guru kelas MI. Artinya kesempatan untuk menerima tunjangan profesi sudah di depan mata. Di bulan yang sama, aku dipanggil oleh pengurus yayasan yang menaungi SMA. Beliau menyampaikan kalau aku akan diangkat menjadi wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.

Kaget, bahagia, sekaligus bingung. Dua peluang emas yang harus aku pilih salah satu. Jika menerima tawaran menjadi wakil kepala di SMA, konsekuensinya aku harus meninggalkan MI. Karena jabatan wakil kepala mengharuskan aku masuk enam hari dalam seminggu. Tetapi kalau resign dari MI berarti melepas peluang menerima tunjangan yang merupakan impian para guru.

Meskipun sejak aku mengajar di SMA, hubunganku dengan kepala MI tidak lagi ‘mesra’, tetapi aku punya ‘utang jasa’ dengan teman-teman guru di sana. Berkat mereka waktu itu aku bisa kembali mengajar di MI. Sementara di SMA aku merasa potensiku terakomodir. Peluang untuk berkembang terbuka lebar. Berbeda dengan di MI yang cenderung stagnan dan kurang ada tantangan.

Butuh waktu seminggu untuk memutuskan. Melibatkan istri, keluarga, guru bahkan minta petunjuk seorang kiai. Akhirnya aku menerima tantangan tugas baru sebagai wakil kepala SMA bidang kesiswaan. Januari 2015 aku pun dilantik. Berbagai komentar negatif, dialamatkan kepadaku. Aku dianggap bertindak bodoh karena merelakan tunjangan yang sudah di depan mata. Yang lain menilai aku gila jabatan. Semua tak kuhiraukan karena aku tidak mau terjebak dalam zona nyaman.

***

Baru satu semester menjabat sebagai wakil kepala sekolah, aku dinominasikan menjadi suksesor kepala SMA karena masa jabatan kepala SMA saat itu sudah habis dan harus ada pergantian dengan kepala yang baru. Berkat rahmat Allah, setelah melewati rangkaian seleksi, aku dinyatakan lolos dan pada bulan Juni 2015 dilantik untuk periode empat tahun ke depan.

Saat aku menulis cerita ini, Maret 2023, aku masih melaksanakan amanah jabatan itu untuk periode kedua. Sementara jatah tunjangan sertifikasi sebagai guru MI yang telah kuikhlaskan, atas kemurahan Allah, tetap bisa cair sejak 2015 hingga sekarang. Padahal aku tidak pernah mengurus berkas perpindahan tempat tugas dari Kementerian Agama (lembaga yang menaungi MI) ke Dinas Pendidikan (lembaga yang menaungi SMA).

Secara logika, hal itu tidak mungkin. Tetapi ketika Allah sudah berkehendak segalanya menjadi mungkin. “Guru itu gajinya tak seberapa tetapi berkahnya luar biasa,” begitu guruku pernah berpesan. Saat mendengarkan ucapan itu aku hanya mengangguk dan mencoba percaya. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku benar-benar telah membuktikannya.

Di kesempatan yang lain, beliau juga pernah memberikan wejangan, “Yen awakmu kepengin sugih ojo dadi guru. Tapi dadi guru iso marai sugih (Jika kamu ingin kaya, jangan memilih profesi menjadi guru. Tetapi guru bisa menjadi orang kaya.)”

Bertahun-tahun kalimat itu aku ingat tanpa mengerti makna dan maksud sebenarnya. Sampai akhirnya aku bertemu pada kesimpulanku sendiri, “Memutuskan berprofesi sebagai seorang guru harus menata niat dan tujuan dari awal. Jika niat dan tujuannya adalah mendapatkan materi maka sebaiknya mencari pekerjaan lain. Karena untuk menjadi guru dibutuhkan keikhlasan dan ketulusan dalam mengabdikan ilmu. Jika itu bisa dipenuhi, insya Allah hidup kita menjadi berkah. Keberkahan hidup itulah “kaya” yang sesungguhnya.”

17 Juni 2023

Tuhan Menjagaku dengan Rencana-Nya



"Gengsi tidak akan membuatmu sukses. Justru kamu akan celaka bersamanya"
- Bapak -

Dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang mayoritas berprofesi sebagai guru, membuat aku sadar bahwa kelak masa depanku tidak akan jauh dari dunia pendidikan. Apalagi kakekku adalah salah satu pendiri sebuah yayasan di desa tempat aku dilahirkan. Tetapi sebenarnya bukan itu cita-citaku. Aku ingin menjadi wartawan atau paling tidak pegawai kantoran. Itu yang terbersit dalam pikiranku saat masih duduk di bangku SMP.

Aku yang saat itu mulai suka menulis, meskipun sekadar berbagi cerita di buku harian, membayangkan kalau menjadi wartawan adalah pekerjaan yang mengasyikkan. Apalagi sehari-hari aku disuguhi berbagai jenis majalah dan koran langganan pamanku. Pamanku yang seorang guru, masih tinggal bersama kakek dan rumahnya bersebelahan dengan rumah orang tuaku. Sehingga dengan sangat leluasa aku bisa membaca majalah dan koran koleksi pamanku kapan saja.

Alih-alih mendapat dukungan dari orang tuaku, mereka berdua justru tidak setuju dengan pilihan cita-citaku. Memang sebagai orang yang hidup di kampung, profesi wartawan tentu masih asing dan tidak populer. Orang tuaku berharap aku bisa meneruskan perjuangan kakek dan para pamanku mengabdi di lembaga pendidikan.

***

Menjelang lulus SMA, aku mendaftar kuliah di beberapa perguruan tinggi negeri favorit melalui jalur beasiswa. Berbagai program studi aku tulis sebagai pilihan. Tentu saja yang paling berpeluang lolos. Tanpa memikirkan kelak akan berprofesi sebagai apa.

Dari sekian program studi yang aku pilih, akhirnya aku diterima di program studi Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Semarang. Merasa bayang-bayang menjadi seorang guru semakin jelas, akhirnya kesempatan itu tidak jadi aku ambil. Apalagi pilihan pertamaku bukan program studi Pendidikan Bahasa Indonesia melainkan Bahasa dan Sastra Inggris. Orang tuaku marah. Sudah pasti mereka sangat kecewa.

Lalu, aku menjatuhkan pilihan pada perguruan tinggi yang lain. Kali ini sebuah kampus swasta elit yang ada di kota Semarang, STIE Dian Nuswantoro (sekarang menjadi Universitas Dian Nuswantoro). Tidak ada pertimbangan khusus sebetulnya. Satu-satunya alasan memilih Semarang adalah agar tetap bisa bersama dengan sahabat kecilku di kampung yang juga memutuskan kuliah di Semarang.

Selang dua minggu setelah pelaksanaan ujian masuk, hasilnya diumumkan. Aku berhasil lolos. Bahagia? sudah pasti. Tetapi tidak dengan orang tuaku. Terutama bapakku. Mereka justru menyalahkan aku karena tidak izin dan meminta pertimbangan sebelumnya. Sebagai kampus yang mencitrakan dirinya “Tempat Kuliah Orang Berdasi”, tentu biaya kuliah di sana sangat mahal. Apalagi untuk ukuran orang tuaku yang hanya buruh di perusahaan tenun milik tetanggaku. Dengan nada sedikit keras, bapak bilang “Yen awakmu mekso kuliah ning kono, yo lakonono. Nanging biayane tanggung dewe (Kalau kamu memaksa kuliah di situ, silahkan. Tapi biayanya tanggung sendiri).”

Setelah berbagai rayuan dan upaya negosiasi tidak berhasil, aku mulai pasrah dan meminta solusi dari bapak. Dengan tegas dan mantab, bapak memberikan pilihan: UMK (Universitas Muria Kudus). Aku tahu itu bukan penawaran tetapi perintah yang harus dituruti. Giliran aku yang kecewa. Menurutku, UMK saat itu adalah kampus swasta di pinggiran kota yang sama sekali tidak bergengsi.

Saat pikiranku masih tak menentu, bapak seperti tahu apa yang sedang ada di benakku. Kemudian beliau memberikan wejangan pamungkas, “Gengsi ora bakal ndadekke awakmu sukses. Sing ono, awakmu bakal ciloko (Gengsi tidak akan membuatmu sukses. Justru kamu akan celaka bersamanya).” Bismillah, aku menuruti permintaan bapak. Mengambil jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi.

***

Tahun pertama menjalani kuliah, terasa menyiksa fisik dan psikis. Bagaimana tidak, lima hari dalam seminggu harus berangkat ke kampus yang berjarak 25 kilometer dari rumah dengan naik angkutan umum. Meski belum bisa membelikan aku sepeda motor tetapi orang tua melarangku tinggal di indekos karena tenagaku sangat dibutuhkan di rumah. Membantu pekerjaan kakakku dan mendampingi belajar adikku yang masih di kelas 6 SD.

Bukan hanya soal transportasi. Iklim di kampus juga membuatku sempat frustasi. Sebagai mantan ketua OSIS saat masih berseragam putih abu-abu, aku butuh sesuatu yang menantang karena itu yang akan membuatku bisa berkembang. Aku memerlukan lingkungan yang kompetitif yang memacu semangatku untuk aktif.

Tetapi setiap kali aku ingin memutuskan berhenti atau pindah kampus, bayangan bapak dan ibu selalu muncul di benakku. Ada pengorbanan mereka yang ingin aku ‘bayar’. Ada harapan dan impian yang harus aku wujudkan. Aku tidak ingin mengecewakan orang tua untuk kedua kalinya. Apalagi aku anak satu-satunya yang bisa merasakan bangku kuliah karena dua kakakku hanya lulusan SMA.

***

Bagaimanapun aku tidak boleh menyerah. Kesempatan yang telah Allah berikan kepadaku tidak boleh aku sia-siakan. Aku tidak ingin pasrah dan terlena dengan keadaan. Kenyamanan dan kebahagiaan yang aku inginkan harus aku ciptakan sendiri. Bukan menunggu diberikan orang lain.

Aku yang cenderung introvert dan low profile sedikit kesulitan untuk bersosialisasi. Meski sadar punya kapasitas tetapi aku enggan untuk memperlihatkannya ke orang lain. Sampai pada akhirnya ‘panggung’ itu tiba. Saat ada perekrutan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tingkat fakultas, aku terpilih.

Menjadi pengurus BEM membuatku jadi punya kegiatan lain selain kuliah di ruang kelas atau membaca buku di perpustakaan. Semakin banyak teman yang aku kenal. Kejenuhanku berangsur-angsur hilang. Tetapi masalah baru muncul. Aku butuh sepeda motor. Aktivitasku di BEM ternyata memerlukan itu.

Aku mengutarakan keinginanku kepada bapak untuk dibelikan sepeda motor. Tetapi karena belum mempunyai cukup uang, bapak belum bisa mengabulkan permintaanku. Tidak ingin terlalu memaksa dan membebani orang tua, aku mencoba menawarkan opsi lain yaitu meminta izin untuk indekos. Meski dengan berat hati, akhirnya bapak memperbolehkan.

Tinggal satu indekos bersama lima teman yang semuanya sudah punya pacar akhirnya memunculkan keinginanku untuk mencari ‘pasangan’. Dengan bermodalkan jabatan sebagai pengurus BEM, aku mulai menebar pesona. Beberapa kali mencoba tetapi tak satu pun hati yang berhasil dipikat.

***

Di tahun ketiga, satu persatu Allah mulai menunjukkan karunia-Nya kepadaku. Melalui pemilihan umum, aku terpilih menjadi Presiden BEM Fakultas. Menjadi mahasiswa nomor satu di kampus, popularitasku mulai menanjak. Tidak hanya di kalangan mahasiswa tetapi juga dosen dan pimpinan fakultas.

Kesempatan untuk mendapatkan beasiswa mulai berdatangan. Satu yang berhasil aku peroleh tetapi yang paling besar dan bergengsi justru jatuh ke tangan adik tingkatku yang juga kolegaku di BEM. Ditugasi pimpinan fakultas untuk menyampaikan informasi kepadaku, tidak ia lakukan tetapi justru beasiswa itu ia ambil sendiri. Maklum, sebagai mahasiswa dari keluarga ‘biasa’ saat itu memang aku belum memiliki ponsel. Sehingga sering ketinggalan informasi dari kampus.

Jabatan sebagai presiden mahasiswa juga tidak sepenuhnya ‘nikmat’. Goncangan dan gangguan dari para ‘rival politik’ datang silih berganti. Tuduhan telah mematikan demokrasi kampus melalui selebaran gelap, diprotes sekelompok mahasiswa kelas ekstensi karena dianggap tidak aspiratif adalah sebagian contoh. Meskipun pada akhirnya dalang di balik semua itu terbongkar. Di sisi lain, status jomblo masih melekat pada diriku. Bukannya tidak ada lawan jenis yang menarik atau tertarik. Beberapa yang medekat justru akhirnya menjadi milik sahabat.

 ***

Tahun keempat, tiba saatnya segera mengakhiri kiprah di kampus. Meski awalnya masuk dengan setengah hati tetapi aku ingin mengakhirinya dengan husnul khotimah. Dimulai dengan skripsi yang berhasil memperoleh nilai A. Penelitianku yang berjudul “Pengulangan Pesan Suatu Iklan dalam Proses Pembelajaran Konsumen” mendapat pujian dari para penguji karena dinilai out of the box.

Perasaan bangga dan bahagia pun makin bertambah ketika aku dihubungi salah satu dosen yang memintaku untuk memberikan sambutan saat acara wisuda digelar. Aku mendapatkan kehormatan itu karena ternyata aku menjadi wisudawan terbaik di Fakultas Ekonomi.

Tugas itu pun berhasil aku emban dengan baik. Berbicara di depan tamu-tamu kehormatan, tanpa menggunakan teks dan saat turun mimbar diberi ucapan selamat oleh salah satu dosen favorit adalah kebanggaan yang luar biasa. “Selamat mas, selama ini belum pernah ada mahasiswa yang memberikan sambutan sebaik yang baru saja Anda lakukan.” Kalimat singkat itu tidak akan pernah aku lupakan,

Menjadi Presiden BEM, lulusan terbaik dan memberikan sambutan di acara wisuda adalah pencapaian yang mungkin tidak akan pernah terjadi jika saat itu aku tidak menuruti nasihat orang tua. Bahkan jika aku tetap memaksa kuliah di Dian Nuswantoro bukan tidak mungkin akan berhenti di tengah jalan karena tidak bisa membayar biaya kuliah.

Aku adalah orang yang sangat percaya akan kekuatan doa. Salah satu doa yang selalu aku baca setiap selesai shalat adalah, “Ya Allah, berikanlah aku ilmu yang bermanfaat dan bisa berprestasi di sekolah.” Doa singkat itu aku panjatkan sejak aku duduk di kelas 1 SMP. Ternyata Allah menjawabnya 10 tahun kemudian.

Ketika Allah berkehendak, maka yang mustahil akan menjadi mungkin. Aku juga tidak menyangka, beberapa kali gagal mendapatkan tambatan hati saat masih kuliah ternyata Allah menggantinya dengan wanita yang Dia pilihkan untukku beberapa bulan menjelang wisuda. Wanita itu adalah teman sekelas saat SMA yang selama empat tahun setelah lulus tidak pernah menjalin komunikasi. Wanita itulah yang akhirnya menjadi ibu dari anak-anakku dan setia mendampingiku sampai saat ini.

Pada akhirnya aku mengerti. Berulang kali merasakan patah hati bukan karena Allah tidak sayang padaku. Tetapi justru sebaliknya. Ketika teman-teman indekosku asyik bermesraan dengan pasangannya dan aku hanya bisa menikmati status jomblo, ketika beberapa diantara mereka harus menikah dini karena telah mengandung sang buah hati dan aku masih seorang diri, itulah sebenarnya bukti kasih sayang Allah kepadaku.

Allah menjagaku dengan rencana-Nya. Dialah Dzat yang menjauhkan dan menghindarkan aku dari kemungkinan perbuatan zina. Allah Maha Tahu kapan waktu terbaik untuk mengabulkan doa-doaku. Karena yang terbaik menurut Allah sudah pasti yang terbaik untuk hamba-Nya. Tetapi yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik di hadapan Allah.