..

15 Oktober 2023

Dari Sihir Afrika Hingga Gereja Maradona

 


Ceceran Kisah yang Jarang Terungkap dalam Sejarah Sepakbola Dunia

(Resume buku yang ditulis oleh Andy Marhaendra)


Dari Sihir Afrika Hingga Gereja Maradona (2010), adalah sekumpulan artikel menarik yang memotret kisah di dalam dan di luar lapangan dalam sejarah sepakbola dunia yang jarang diungkap dan diketahui oleh para penikmat sepakbola. Menikmati sepakbola tidak hanya sebatas mencermati skor pertandingan dan menyoraki pemenangnya. Kisah kehidupan para pelakunya tak kalah menarik dibandingkan dengan film-film box office atau novel bestseller sekalipun. Kisah drama itu pula yang membuat sepakbola tidak pernah kehilangan penggemar dan selalu menarik untuk ditonton.

 

Siapa penulis buku ini?

Andy Marhaendra adalah lulusan Sastra Indonesia di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta yang cukup lama  berkarir di berbagai media cetak. Di antaranya adalah majalah sepakbola Sportif (Juni 1998-Desember 2003), majalah Tempo (Maret 2004-Oktober 2004) dan Koran Tempo (November 2004-Mei 2009).

 

Untuk siapa buku ini?

  1. Para penggemar sepakbola yang ingin mengetahui lebih dalam tentang catatan sejarah atau kisah para tokoh sepakbola dunia.
  2. Siapapun yang ingin menambah wawasan dan pengetahuan tentang sepakbola.

 

Apa yang dibahas buku ini?

Berbagai drama yang terjadi di balik serunya pertandingan di lapangan hijau dan kisah menarik kehidupan di luar lapangan para pelaku sepakbola dunia.

Sepakbola adalah euforia dunia. Meskipun tidak didukung data resmi, bisa dibilang lebih dari setengah penduduk dunia adalah penggemar sepakbola. Namun, jangan lupakan juga bahwa sepakbola bukan sekadar olahraga permainan 2 x 45 menit di atas hamparan rumput lapangan hijau. Jika ada olahraga yang paling lengkap mewakili dan mengungkapkan berbagai sisi kehidupan, itulah sepakbola. Seperti halnya kehidupan, begitu banyak drama yang terjadi dalam permainan olahraga tua ini. Selebrasi, sensasi, konflik, intrik dan tragedi silih berganti menghiasi aksi para seniman bola memainkan si kulit bundar.

Buku ini diterbitkan di saat masyarakat pencinta sepakbola dunia sedang menanti perhelatan akbar 4 tahunan, World Cup 2010 yang berlangsung di benua Afrika, tepatnya di negara Afrika Selatan. Berbagai kisah baik di dalam maupun di luar lapangan khususnya yang menyangkut tim-tim kontestan pesta sepakbola terbesar di dunia itu diceritakan dengan sangat menarik dalam buku ini.

Hal-hal menarik yang bisa kita pelajari antara lain:

  1. Apa hal positif yang terjadi dari sebuah penyelenggaraan pertandingan sepakbola, khususnya Piala Dunia?
  2. Bagaimana kisah kehidupan para bintang sepakbola dunia?
  3. Apa sisi negatif dari sepakbola yang pernah terjadi?
  4. Bagaimana keluarga dapat mempengaruhi kesuksesan karir pemain sepakbola?

 

Piala Dunia mampu mempersatukan berbagai kelompok, meredakan ketegangan politik dan membangkitkan nasionalisme

Spanyol tak pernah absen melahirkan bakat-bakat besar pemain sepakbola, tetapi sampai Piala Dunia 2006 digelar, Tim Matador – julukan tim nasional Spanyol – belum pernah sekalipun mencicipi manisnya gelar juara dunia. Lantas apa masalahnya ? Nasionalisme. Para pemain yang dipanggil ke tim nasional selalu kesulitan menemukan kohesitas sebagai sebuah tim. Mereka masih merasakan sebagai orang-orang yang berbeda, bukan kesatuan Spanyol. Satu pemain merasa sebagai orang Galisia, yang lain sebagai Catalonia, Castilia atau Basque. “Kepingan” semangat itulah yang ingin disatukan Luis Aragones, pelatih tim Spanyol saat berlaga di Piala Dunia 2010 dan meraih juara untuk pertama kalinya.

Sebagai dua negara bertetangga, Korea Selatan dan Jepang memiliki catatan panjang sejarah kelam di masa lalu, yakni Perang Dunia II dan sengketa wilayah di Kepulauan Dokdo. Saat FIFA menunjuk Korea Selatan dan Jepang menjadi tuan rumah bersama pada Piala Dunia 2002, dunia berharap kedua negara tersebut berdamai dan melupakan masa lalu. Dan, meski “bumbu-bumbu” ketidakharmonisan masih terasa, kedua negara tersebut mampu berkolaborasi sehingga kejuaraan berhasil digelar dengan sukses dan menjadi trendsetter penyelenggaraan Piala Dunia di dua negara.

Sekian lama masyarakat Jerman hidup di bawah bayang-bayang kediktatoran Adolf Hitler. Hal ini membuat mereka malu dan merasa kehilangan jati diri sebagai sebuah bangsa. Bahkan untuk menyanyikan lagu kebangsaan dan mengibarkan bendera negaranya sendiri mereka tidak percaya diri. Tetapi status sebagai tuan rumah Piala Dunia 2006 menjadi momentum bagi Jerman untuk menumbuhkan nasionalisme dan patriotisme warga negaranya. David Odonkor dan Gerald Asamoah, dua pemain berkulit hitam pun masuk lapangan dengan gagah dan bangga sebagai bagian dari tim nasional Jerman. Satu pemandangan yang tidak mungkin terjadi di zamannya Hitle

Bagi Ukraina, sepakbola mempunyai makna perlawanan dan nasionalisme. Saat masih bersama Uni Soviet, bahasa Ukraina tertindas oleh bahasa Rusia. Sepakbola menjadi satu-satunya bahasa bagi mereka untuk menunjukkan identitas. Uniknya, dua tokoh bernama Shevchenko menjadi “aktor" bangkitnya semangat nasionalisme orang Ukraina. Shevchenko yang pertama adalah seorang seniman bernama Taras Hryhorovych Shecvhenko yang menggugah kesadaran orang Ukraina lewat ratusan puisi dan lukisan-lukisannya. Dan yang kedua adalah Andriy Shevchenko, striker sekaligus kapten yang membawa tim nasional Ukraina tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Saat kualifikasi Piala Dunia 2006, Serbia-Montenegro masih merupakan satu negara. Tetapi kurang dari sebulan menjelang tampil di putaran final, melalui referendum akhirnya mayoritas masyarakat Montenegro memilih “bercerai” dengan Serbia. Lantas bagaimana dengan skuad yang telah dipersiapkan untuk berlaga di Piala Dunia?. Tim itu berangkat dengan bendera Serbia tetapi ada dua pemain yang berasal Montenegro, yakni kiper Dragoslav Jevric dan stopper Mladen Krstajic. Bukannya dikucilkan atau “dibuang”, 21 kolega Jevric dan Krstajic di tim nasional justru memberi dukungan dan saling menguatkan. Di sini, sepakbola benar-benar telah menyatukan.

Penjara Pulau Robben di Afrika Selatan menyimpan kenangan buruk bagi Nelson Mandela. Di sana, Mandela bersama dengan 1.400 tahanan yang lain menjalani hukuman yang sebagian besar adalah tahanan politik akibat Rezim Apherteid. Mereka merasa harapan dan segala impian telah mati. Hanya satu yang menyisakan gairah kehidupan bagi mereka : sepakbola. Satu-satunya hiburan yang bisa mereka mainkan setiap akhir pekan. Dan ketika Mandela keluar dari penjara, sampai kemudian FIFA memutuskan Piala Dunia 2010 bertempat di Afrika Selatan, ini seperti penghormatan bagi mereka. Tidak hanya orang Afrika Selatan tetapi juga seluruh benua Afrika.

Profesionalisme dan nasionalisme para kontestan Piala Dunia benar-benar diuji. Hal ini karena beberapa dari mereka harus bertarung dengan negaranya sendiri. Zico yang berstatus pelatih Jepang harus menghadapi tanah kelahirannya, Brasil. Sven-Goran Eriksson yang menukangi Inggris, akan melawan bangsanya sendiri, Swedia. Para pemain yang menyeberang ke negara lain demi bisa tampil di Piala Dunia juga harus menunjukkan nasionalisme untuk negara barunya. Mehmet Aurelio (Brasil ke Turki), Pepe (Brasil ke Portugal), Deco (Brasil ke Portugal), dan Marcos Senna (Brasil ke Spanyol) adalah contoh.

Kurang lengkap rasanya bila menggemari sepakbola hanya sebatas mencermati skor pertandingan dan menyoraki pemenangnya”

Andy Marhanedra

 

Akhir perjalanan hidup para bintang setelah sinarnya meredup. Beberapa legenda mengalami tekanan mental setelah pensiun

Bagi para penggemar sepakbola, Diego Armando Maradona adalah representasi keindahan tertinggi yang hadir dari lapangan hijau. Orang Argentina bahkan menganggapnya sebagai pahlawan nasional, sebagian memujanya sebagai “Tuhan” dan membuatkan ruang pemujaan bernama Gereja Maradona di Buenos Aires pada 2003.

Di balik segala kebintangannya, pemain paling popular versi jajak pendapat FIFA tersebut mempunyai perilaku yang tak patut untuk dicontoh para pengagumnya. Pemilik “Gol Tangan Tuhan” itu tenggelam dalam kecanduan alkohol dan obat bius yang merenggut karirnya dan hampir juga merenggut nyawanya. Konon, perkenalan Maradona dengan obat bius terjadi karena kedekatannya dengan bos-bos mafia saat bermain di Napoli.

Sebagai negara yang melahirkan sepakbola, Inggris pernah melahirkan pemain gelandang dengan teknik terhebat sepanjang sejarah negara Ratu Elizabeth itu. Dialah Paul Gascoigne atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gazza. Gazza mengalami depresi berkepanjangan yang membuatnya sulit keluar dari permasalahan hidupnya. Ia kecanduan alkohol dan narkoba. Setiap hari dia menghabiskan 35 butir pil psikotropika seharga 36 juta rupiah.

Ariel Ortega, pewaris nomor punggung 10 di tim nasional Argentina setelah  Maradona gantung sepatu juga sempat terjerat dalam candu alkohol. Setelah melanglangbuana di Liga Spanyol dan Italia, Ortega mendapatkan kekecewaan saat bermain di Fenerbahce, Turki. Setelah pulang kampung ke negaranya dan bermain di Newell’s Old Boys pada 2006 itulah ia mulai tidak bisa lepas dengan alkohol.

Ironi Garrincha (Brasil) dan George Best (Irlandia Utara) lebih tragis lagi. Keduanya berakhir dengan kematian akibat efek overdosis alkohol dan narkoba. Garrincha meninggal pada usia 49 tahun karena penyakit lever yang akut sedangkan Best meninggal pada usia 59 tahun akibat infeksi paru-paru. Jika Garrincha terjebak dalam jeratan alkohol karena depresi maka Best melakukannya karena gaya hidupnya yang “ngartis”.

Sementara di Italia, Gianluca Pessotto punya catatan hidup yang agak berbeda. Setelah menyatakan pensiun di usia 35 tahun, dia diangkat sebagai manajer Juventus. Saat muncul tuduhan pengaturan skor yang dilakukan Juventus sepanjang musim 2004/2005, hati Pessotto tak kuat menahan malu sampai akhirnya diduga melakukan upaya bunuh diri dengan meloncat dari lantai 3 kantor Juventus di Turin.

Entah apa yang membuat Pessotto terjatuh kala itu. Bisa tak sengaja, bisa pula seperti dugaan orang : upaya bunuh diri. Yang jelas, kejadian tersebut membangkitkan solidaritas di kalangan sepakbola Italia untuk mendukung kembali timnya di Piala Dunia. Efeknya bagi para pemain lebih jelas lagi : melipatgandakan semangat.

 

Sisi hitam sepakbola, rivalitas dan fanatisme para pendukung klub melahirkan teror, anarkisme bahkan perang ilmu gaib.

Tidak hanya pemain dan pelatih yang dituntut selalu on fire, keinginan para pendukung agar tim kebanggaannya meraih kemenangan juga membuat perangkat yang memimpin pertandingan harus tampil sempurna tanpa cela. Satu kesalahan dalam meniup peluit bisa berakibat fatal. Teror dan ancaman pembunuhan akan datang bahkan tak jarang menimpa anggota keluarga sang pengadil.

Howard Webb (Inggris), Andres Frisk (Swedia), Urs Meier (Swiss), Mauro Bergonzi (Italia), dan Herbert Fandel (Jerman) adalah deretan wasit top Eropa yang pernah merasakan teror yang menakutkan. Yang disebut kedua bahkan memilih pensiun dini karena tidak tahan dengan ancaman mati dari pendukung Chelsea. Penyebabnya, Frisk mengkartumerah striker Chelsea, Didier Drogba saat mereka berjumpa Barcelona pada pertandingan Liga Champion 2004/2005. 

Munculnya teror tidak hanya karena kebencian tetapi juga bisa timbul dari cinta yang berlebihan. Biasanya, ini menimpa para pemain idola yang menjadi ikon atau bintang dari tim yang didukung. Di Italia, pemain AC Milan asal Brasil, Kaka yang diisukan akan pindah ke Manchester City harus rela menerima gangguan dari para penggemar. Roberto Baggio yang menyeberang ke Juventus dari Fiorentina dan Gabriel Batistuta yang hengkang dari Fiorentina ke AS Roma adalah contoh korban teror  yang lain.

Rivalitas antar klub juga sering melahirkan pertikaian. Dalam hal ini, Argentina bisa dijadikan contoh terdepan. Perseteruan abadi antara Rivel Plate dengan Boca Junior tidak jarang mengakibatkan kerusuhan yang berujung kematian. Barrabravas – sebutan untuk pendukung garis keras di Argentina – bahkan sampai dianggap sebagai “penyakit sosial”.

Di Eropa, tidak ada dalam catatan sejarah, rivalitas antara pendukung Juventus dengan Liverpool. Tetapi kerusuhan antar pendukung dua klub yang terjadi di Stadion Heysel pada final Liga Champion 1985 tercatat sebagai satu dari sekian peristiwa terburuk dalam sejarah sepakbola modern. Sebanyak 39 orang tewas dan 600 orang lainnya harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka parah.

Di Benua Afrika, sejauh ini belum ditemukan catatan sejarah tentang rivalitas pendukung antar klub. Yang identik dengan benua hitam ini adalah justru tentang isu ilmu hitam. khususnya dalam kancah sepakbola. Masing-masing negara di Afrika punya tradisi ilmu gaib yang berbeda tetapi Juju (ritual klenik khas Afrika bagian barat) adalah yang paling terkenal. Puleez, sebutan untuk dukun Juju punya cara kerja dan ramuan yang berbeda-beda. Media yang paling terkenal yaitu potongan tangan monyet dan gading gajah. Entah bagaimana cara kerjanya, yang jelas pengaruh pemakaian juju ini diakui secara terbuka oleh beberapa tokoh sepakbola di Afrika.

Selain juju, Afrika juga menyimpan keunikan lainnya, yaitu Vuvuzela. Vuvuzela adalah terompet yang terbuat dari tanduk antelop dan biasanya dipakai dalam upacara keagamaan. Waktu terus berlalu sampai akhirnya Vuvuzela identik dengan suporter sepakbola. Karena pengaruhnya yang cenderung negatif (menimbulkan kebisingan yang luar biasa) di beberapa negara mulai dilarang untuk dibunyikan.

 

Jika  ada olahraga yang paling lengkap mewakili dan mengungkapkan berbagai sisi kehidupan, itulah sepakbola

Andy Marhaendra

 

Peran keluarga terhadap karir pemain sepakbola dan perdebatan tentang boleh-tidaknya melakukan hubungan seks di tengah kejuaraan.

Sebagai tuan rumah Piala Dunia 2006, waktu itu Jerman dilatih oleh salah satu putra terbaiknya : Juergen Klinsmann. Tetapi sosok penting yang tak boleh dilupakan adalah “Sang Kaisar” Franz Beckenbauer. Beckenbauer yang sukses mempersembahkan dua gelar juara bagi negaranya baik saat menjadi pemain (1974) dan sebagai pelatih (1990) menjadi faktor penting atas terpilihnya Jerman sebagai tuan rumah Piala Dunia 2006. Bahkan oleh pemerintah Jerman, dia ditunjuk menjadi Presiden Pelaksana Turnamen.

Di lapangan hijau, Beckenbauer adalah panutan Klinsmann. Tetapi tidak untuk urusan rumah tangga. Jika Beckenbauer suka berganti-ganti pasangan, Klinsi – nama panggilan Klinsmann – begitu setia dengan mahligai yang ia bangun bersama Debbie Chin, perempuan keturunan Cina yang telah memberinya dua “malaikat kecil”. Kesetiaan itu pula yang membuatnya menuai kritik dari publik Jerman karena lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarganya di California, Amerika Serikat daripada mendampingi tim asuhannya berlatih di Berlin.

Bagi Klinsmann, keluarga memberinya suntikan energi dan sumber inspirasi untuk gaya sepakbola Jerman yang baru. Dan, meski akhirnya gagal lolos ke final, Klinsmann tetap mendapat apresiasi karena permainan Der Panser – julukan tim nasional Jerman – dianggap atraktif dan menghibur. Klinsmann telah berhasil melakukan revolusi metode latihan dan gaya bermain Jerman keluar dari pakem yang telah dipegang bertahun-tahun.

Senada dengan Klinsmann, bintang Perancis, Zinedine Zidane juga adalah sosok panutan soal kecintaan dan kesetiaan kepada keluarga. Setelah berhasil membawa Perancis menjadi juara Piala Dunia 1998, Zizou – sapaan akrab Zidane – dibanjiri e-mail dan surat dari para gadis penggemarnya untuk menawarkan “cinta”. Tetapi Zidane tidak goyah sedikitpun. Hatinya tetap untuk Veronique, wanita yang dinikahinya pada 1993 dan telah memberinya dua orang putra. Bagi Zidane, Veronique adalah sosok yang membuat hidupnya berubah dan meraih banyak kesuksesan sebagai pemain sepak bola. sehingga wajar jika ia ingin mendedikasikan sisa hidupnya untuk istri dan anak-anaknya.

Soal pendekatan keluarga, Guus Hiddink melakukannya berbeda saat menangani tim nasional Rusia. Selama bertahun-tahun Tim Beruang Merah – julukan tim nasional Rusia – digembleng dengan metode latihan bergaya militer yang diberi nama Sbori. Tetapi Hidding melakukan revolusi. Pelatih berkebangsaan Belanda itu tetap membebaskan para pemainnya bersantai dan berkumpul dengan keluarga meski di tengah perhelatan akbar Piala Dunia. Hiddink tidak khawatir fokus dan konsentrasi pemainnya terganggu. Justru hal itu dapat mempermudah program dan taktik yang dipersiapkan oleh pelatih asing pertama bagi tim nasional Rusia itu.

Jajaran pelatih tim nasional yang sependapat dengan Hiddink soal membiarkan para pemain “berhubungan” dengan pasangannya adalah Carlos Alberto Parreira (Brasil), Juergen Klinsmann (Jerman), Sven Goran Eriksson (Inggris), Jose Pekerman (Argentina) dan Raymond Domenech (Perancis). Sementara bagi Oleg Blokhin (Ukraina), dia memperbolehkan para pemainnya bersenang-senang dengan keluarganya dengan syarat pencapaian tertentu.

Prinsip berbeda dipegang oleh Marcelo Lippi (Italia) dan Luis Felipe Scolari (Portugal). Membiarkan para pemain bertemu dan berkumpul dengan pasangan atau keluarganya dapat mengganggu fokus pemain. Sehingga keduanya membuat aturan tegas dan mengisolasi para pemainnya dari “godaan” para pasangannya.


Kesimpulan buku 

  1. Sebagai olahraga yang paling digandrungi di muka bumi ini, sepakbola memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan.
  2. Para pelaku sepakbola, di balik kemampuan tekniknya yang memukau, popularitas yang menggiurkan, mereka tetap adalah manusia biasa yang mempunyai sisi buruk untuk jadi pelajaran dan tidak untuk ditiru.
  3.  Seperti dua sisi mata uang, sepakbola memberikan efek yang positif sekaligus meninggalkan efek yang negatif.
  4.  Meskipun sudah dilengkapi dengan perangkat teknologi, sepakbola tetaplah permainan olahraga yang tak bisa meninggalkan unsur manusiawinya. Disitulah sering sepakbola menjadi menarik.

 



[1] Tulisan resume ini ditulis oleh Budi Ismail, seorang pendidik di SMA Walisongo Pecangaan Jepara yang sejak kecil sangat menggemari sepakbola, bisa dihubungi melalui e-mail dimaskreatif@gmail.com, Facebook Budi Ismail, Instagram @bud11smail.

0 comments:

Posting Komentar